Rumah Lokasi Syuting Film KKN di Desa Penari Mau Dijual, Siapa yang Minat?

Infonesia.id– Tahukah anda jika syuting film KKN di Desa Penari berada di Dusun Ngluweng, Kelurahan Ngleri, Kapanewon Playen, Gunung Kidul?

Salah satunya adalah rumah milik Ngadiyo yang lokasinya memang berada di pinggiran dan cukup terpencil. Jika dari lokasi syuting rumah pertama dan kedua yang awalnya dijadikan posko KKN maka untuk menuju ke rumah Ngadiyo harus melewati jalan setapak yang ditumbuhi dengan rimbunan pohon.
Subardo (51) salah satu pemeran hantu dan juga bertugas menjadi linmas selama syuting berlangsung menceritakan bagaimana mistisnya rumah Ngadiyo tersebut. Di mana Ngadiyo bersama istrinya tinggal di rumah yang sebenarnya belum lama dibangun.
“Rumah itu dulu awalnya doyong (miring) karena digoyang gempa 2006 dan oleh pemiliknya dirobohkan sekalian sehingga mendapatkan bantuan dari pemerintah kategori rusak berat sebesar Rp 15 juta,” papar dia, Rabu (18/5/2022).
Rumah tersebut dipilih menjadi pusat atau rumah utama syuting film KKN di Desa Penari beberapa waktu yang lalu karena letaknya yang cukup terpencil yaitu di bawah rimbunan pohon bambu dan juga memiliki aura mistis cukup tinggi.
Bahkan warga sekitar pun menganggapnya rumah tersebut rumah angker sehingga wajar jika digunakan untuk lokasi film horor. Di lokasi ini beberapa adegan film diambil dengan memanfaatkan berbagai sudut rumah tersebut.
Subardo menuturkan beberapa adegan yang di ambil di rumah tersebut diantaranya adalah ketika Bima dan Ayu meregang nyawa di atas tempat pembaringan kemudian adegan ketika salah seorang warga mengintip Widya dari luar dan yang nampak hanya ular.
“Ceritanya saat mengintip ada ular terus warga berbondong-bondong membawa kayu dan senjata ingin menangkapnya itu ya di sini, di Rumah Ngadiyo,” paparnya.
Adegan lain yang menegangkan diambil di rumah tersebut adalah ketika Bayu melempar bungkusan kepala monyet yang berlumuran darah. Adegan tersebut diambil di sisi kiri rumah Ngadiyo.
Selain itu ada juga adegan ketika para peserta KKN tersebut menikmati kopi di luar ruangan. Di mana bagian depan rumah Ngadiyo disetting dengan menempatkan beberapa meja kursi untuk minum kopi tersebut.
“Di dalam itu ruangan-ruangan diubah semua. Dicat dengan warna hitam, pokoknya seram,” paparnya.
Saking seramnya rumah tersebut warga yang kebetulan diundang untuk mengikuti acara kenduri syukuran selesainya syuting tersebut justru merasa ketakutan. Karena saat dilaksanakan kendurian syukuran tersebut setting rumah sama sekali tidak berubah mirip dengan adegan film tersebut.
Usai syuting film tersebut selesai dilakukan, pemilik pun enggan untuk menempati rumah tersebut. Mereka mengaku takut untuk tinggal di rumah yang konon bertambah seram usai syuting film ini.
“Mbah Ngadiyo itu juga meninggal usai syuting film tersebut. Tetapi bukan karena syuting, beliau sudah sakit cukup lama,” tambahnya.
Kini rumah tersebut dibiarkan kosong oleh pemiliknya karena istri Mbah Ngadiyo enggan tinggal di rumah tersebut dan memilih bersama dengan anaknya. Di samping itu anak-anaknya beserta cucu Mbah Ngadiyo juga enggan tinggal di rumah tersebut karena mengaku takut.
Dukuh Ngluweng, Istri Rahayu juga memiliki pengalaman mistis di rumah tersebut. Istri mengakui rumah Ngadiyo memang angker. Suatu ketika dirinya mendatangi rumah Ngadiyo untuk mengantar zakar mal dari seseorang.
Ketika sampai di rumah Ngadiyo, ia mengucap salam. Dan dari dalam rumah terdengar jawaban salam juga. Namun setelah 10 menit menunggu ternyata tidak ada seorangpun yang keluar. Iapun lantas bergeser ke rumah tetangganya yang lain dan berpapasan dengan cucu dari Ngadiyo.
“Saya tanya, mbah Ngadiyo dan istrinya ke mana? Si cucunya tadi jawab baru terapi. Lha terus siapa yang jawab salam dari dalam rumah tadi, hii bikin merinding. Saya terus lari pulang,” ceritanya.
Karena menjadi sentra shooting film KKN di Desa Penari maka pemilik rumah memasang tarif cukup tinggi untuk pelaksanaannya. Kala itu pemilik rumah meminta tarif sebesar Rp 18,500 dan diamini oleh produsen film tersebut.
Dari uang sewa tersebut pemilik rumah ternyata mampu membeli sebidang tanah di tempat lain. Namun karena kini kosong dan terlihat menyeramkan maka keluarga memutuskan untuk menjuall rumah tersebut.
“Ini kalau ada yang mau beli. Dua rumah ukuran 8×12 dijual Rp 60 juta. Rumah bekas syuting film KKN di Desa Penari,” ungkapnya.